"Selamat Datang Di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kalibanger Kota Pekalongan" *SELAMAT DATANG DI MADRASAH ALIYAH (MA) SALAFIYAH KALIBANGER KOTA PEKALONGAN*

Kamis, 02 Februari 2012

BID'AH 'ALA MADZAHIBIL ARBA'AH

BID'AH 'ALA MADZAHIBIL ARBA'AH
Penulis: Syaikh Prof. Dr. Ali Jum'ah (Mufti Republik Mesir)

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

"Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka." (HR. An-Nasa'i)

Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang berbicara tentang bid'ah. Namun untuk memahami perkara bid'ah ini tidak asal begitu saja kita pahami secara harfiah atau tekstual dari hadits tersebut, sehingga siapapun menjadi mudah untuk mengklaim saudara-saudaranya semuslim yang melakukan satu perkara yang tidak pernah dilakukan di zaman nabi SAW kita anggap sebagai pelaku bid'ah yang sesat, dan jika ia sesat berarti tempatnya di neraka. Agar tidak berkesan tergesa-gesa ada baiknya kita memahami terlebih dahulu masalah ini melalui kajian-kajian dari para ulama salafush-shalih kita yang telah terebih dahalu mengkajinya.

Definisi Bid'ah
Untuk mengetahui pengertian bid'ah yang benar maka kita harus terlebih dahulu memahami arti bid'ah secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi/syariat).

Bid'ah Menurut Bahasa (Etimologi)
Yaitu hal baru yang disisipkan pada syariat setelah setelah ia sempurna. Ibnu As-Sikkit berpendapat bahwa bid'ah adalah segala hal yang baru. Sementara istilah pelaku bid'ah (baca: mubtadi') menurut adat terkesan tercela.
Adapun Abu Adnan berpendapat bahwa bid'ah adalah melakukan satu perbuatan yang nyaris belum pernah dilakukan oleh siapapun, seperti perkataan Anda: si fulan berbuat bid'ah dalam perkara ini, artinya ia telah mendahului untuk melakukan hal itu sebelum orang lain.

Bid'ah Menurut Istilah (Terminologi/Syariat)
Ada dua cara yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid'ah menurut syara'.

Segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW adalah Bid'ah
Pandangan ini dimotori oleh Al Izz bin Abdussalam (ulama madzhab Syafi'i), dia menganggap bahwa segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW sebagai bid'ah. Bid'ah ini pun terbagi kepada hukum yang lima. Berikut perkataan Al Izz:
"Amal perbuatan yang belum pernah ada di zaman Nabi SAW atau tidak pernah dilakukan di zaman beliau terbagi lima macam:
  1. Bid'ah wajib.
  2. Bid'ah haram
  3. Bid'ah sunah
  4. Bid'ah makruh
  5. Bid'ah mubah
Adapun untuk mengetahui semua itu adalah mengembalikan semua perbuatan yang dinggap bid'ah itu di hadapan kaidah-kaidah syariat, jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip wajib maka perbuatan itupun menjadi wajib (bid'ah wajib), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip haram maka perbuatan itupun menjadi haram (bid'ah haram), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip sunah maka perbuatan itupun menjadi sunah (bid'ah sunah), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip mubah (boleh) maka perbuatan itupun menjadi mubah (bid'ah mubah). (Lihat Qawa'id Al Ahkam fi Mashalihil Anam, juz 2. h. 204)

Makna tersebut juga dikatakan oleh Imam An-Nawawi yang berpendapat bahwa segala perbuatan yang tidak pernah ada di zaman Nabi dinamakan bid'ah, akan tetapi hal itu ada yang baik dan ada yang kebalikannya/buruk. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Juz 2.h. 394).

Definisi Bid'ah Syariat Lebih Khusus
Cara kedua yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid'ah adalah: menjadikan pengertian bid'ah menurut syariat lebih khusus dari pada menurut bahasa. Sehingga istilah bid'ah hanya berlaku untuk suatu perkara yang tercela saja, dan tidak perlu ada penamaan bid'ah wajib, sunah, mubah dan seterusnya seperti yang diutarakan oleh Al Izz bin Abdussalam.

Cara kedua ini membatasi istilah bid'ah pada suatu amal yang diharamkan saja. Cara kedua ini diusung oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ia pun memjelaskan bahwa bid'ah adalah suatu perbuatan yang tidak memiliki dasar syariat yang menguatkannya, adapun jika suatu perbuatan ini memiliki dasar syariat yang menguatkannya maka tidak dinamakan bid'ah, sekalipun hal itu bid'ah menurut bahasa. (lihat Jami' Al Ulum Wa Al Hikam h. 223)

Sebenarnya kedua cara yang ditempuh para ulama ini sepakat mengenai hakikat pegertian bid'ah, perbedaan mereka terjadi pada pintu masuk yang akan mengantarkan pada pengertian yang disepakati ini, yaitu bahwa bid'ah yang tercela (madzmumah) adalah yang berdosa jika megerjakannya, dimana perbuatan itu tidak memiliki dasar syar'i yang menguatkannya, inilah makna yang dimaksud dari sabda Nabi SAW,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
"Setiap perbuatan bid'ah itu sesat."
Definisi yang jelas inilah yang dipegang oleh para ulama, ahli fikih dan imam yang diikuti. Imam Syafi'i--sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi--bahwa beliau berkata,
"Perkara baru yang tidak ada di zaman nabi SAW itu ada dua kategori:
  1. Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur'an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid'ah yang sesat (bid'ah dhalalah).
  2. Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur'an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela."
(Riwayat Al Baihaqi. Lihat kitab Manaqib Asy-Syafi'i, juga oleh Abu Nu'aim dalam kitab Hilyatul Auliya'. 9/113)

Sementara Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali berpendapat bahwa tidak semua perkara baru yang tidak dilakukan di zaman nabi SAW itu dilarang, akan tetapi yang dilarang adalah perkara bid'ah yang bertolak belakang dengan Sunnah dan menghilangkan apa yang sudah ditetapkan syari'at. (Lih.Ihya' Ulumuddin, juz 2, h. 248)
Imam An-Nawawi telah menukil dari Sulthanul ulama, Imam Izzuddin bin Abdussalam, dia berkata di akhir kitab Qawa'id Al Ahkam (kaidah-kaidah hukum),
"Bid'ah itu terbagi kepada wajib, sunah, mubah, haram dan makruh ... "

Di kesempatan lain, dalam pembicaraan tentang hukum bersalaman usai shalat, dia juga berkata,
"Ketahuilah bahwa bersalaman ini disunahkan pada setiap pertemuan, adapun orang-orang membiasakan bersalaman pada setiap kali usai shalat maka ini tidak ada dasarnya sama sekali, akan tetapi hal itu tidak mengapa dilakukan, karena dasar bersalaman itu adalah Sunnah. Adapun mereka yang membiasakannya pada kondisi tertentu seperti usai shalat maka hal ini tidak keluar dari keberadaan bersalaman yang disinggung oleh dasar syariat (Sunnah)." (lihat An-Nanawi dalam Al Adzkar)
Adapun Ibnu Al Atsir berkata,

"Bid'ah itu ada dua macam, bid'ah huda (yang berpetunjuk) dan bid'ah dhalal (sesat), jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW maka itu termasuk tercela dan dikecam. Jika perkara itu termasuk yang disunahkan dan dianjurkan maka perkara itu terpuji. Dia pun menambahkan: bid'ah yang baik pada dasarnya adalah sunah."
Karena itu hadits Nabi SAW,
"Bahwa setiap perkara baru itu bid'ah."
Dipahami jika perkara baru itu bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan bertolak belakang dengan Sunnah." (lihat An-Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir juz 1. h. 80)
Ibnu Al Manzhur juga memiliki pendapat yang bagus mengenai definisi bid'ah secara istilah syar'i, menurutnya:

Bid'ah itu ada dua macam, bid'ah berpetunjuk (huda) dan bid'ah yang sesat (dhalal). Jika perkara itu bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk tercela dan dikecam. Adapun jika perkaranya termasuk atau sesuai dengan apa yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk perkara terpuji. Adapun perkara yang tidak ada contohnya di zaman nabi SAW seperti macam-macam jenis kebaikan dan kedermawanan serta perbuatan baik lainnya maka itu termasuk perbuatan yang terpuji (seperti bersedekah dengan pulsa, voucher, mengucapkan selamat via email dan SMS atau MMS, mengaji via telepon, dan lain sebagainya--Red)."
Perkara baru ini tidak boleh bertentangan dengan dasar-dasar syariat, karena Nabi SAW telah menilai perbuatan ini (yang sesuai dengan dasar-dasar syari'at) berhak mendapatkan pahala: beliau bersabda,
"Siapa yang memulai perbuatan baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya."
Pada perbuatan kebalikannya beliau bersabda pula,
"Siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk, maka dia mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengamalkannya."
Hal itu terjadi jika perbuatannya bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Begitupula dengan yang dikatakan Umar,
"Ini (shalat Tarawih berjama'ah) bid'ah yang baik".
Jika perbuatan itu termasuk katagori kebaikan dan terpuji maka dinamakannya dengan bid'ah yang baik dan terpuji, karena Nabi SAW tidak menyunahkan shalat Tarawih secara berjamaah kepada mereka, Rasulullah hanya melakukannya beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak lagi mengumpulkan jamaah untuk melakukan shalat Tarawih.
Praktik shalat Tarawih berjamaah ini juga tidak dilakukan pada masa Abu Bakar. Namun hal itu dipraktikkan di masa Umar bin Al Khaththab, beliau menganjurkannya serta membiasakannya, sehingga Umar menamakannya dengan bid'ah pula, namun pada hakikatnya praktik tersebut adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi SAW,
"Ikutilah Sunnahku, dan sunah khulafa rasyidun setelahku."
Juga sabda beliau lainnya,
"Ikuti orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ..."
Adapun hadits nabi SAW,
"Setiap perkara baru adalah bid'ah"
Dipahami jika perkara itu bertolak belakang dengan dasar-dasar syariat dan tidak sesuai dengan Sunnah. (lihat Lisan Al 'Arab juz 8. h. 6)

Sikap Para Ulama terhadap Definisi Bid'ah
Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa bid'ah terbagi beberapa macam, hal ini nampak pada pendapat imam Syafi'i dan para pengikutnya seperti, Al Izzu bin Abdussalam, An-Nawawi dan Abu Syamah. Dari Madzhab Maliki seperti, Al Qarafi dan Az-Zarqani. Dari Madzhab Hanafi, seperti Ibnu Abidin. Dari Madzhab Hambali, seperti Ibnu Al Jauzi. Dari madzhab Zhahiriyah, seperti Ibnu Hazm.
Semua ini tercermin dalam definisi yang diberikan Al Izz bin Abdussalam mengenai bid'ah, yaitu perbuatan atau amal yang tidak pernah ada di zaman Nabi SAW, dan hal ini tebagi pada bid'ah wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.
Para ulama ini memberikan contoh-contoh mengenai pembagian bid'ah ini:
  • Bid'ah wajib
Seperti mempelajari ilmu nahwu dan sharaf (gramatika bahasa Arab) yang dengannya dapat memahami kalam Ilahi dan sabda Rasulullah. Ini termasuk bid'ah wajib, karena ilmu ini berfungsi untuk menjaga kemurnian syariat, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih,                         

‎مَا لاَيَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

"Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak akan berjalan sempurna maka sesuatu itu pun menjadi wajib hukumnya."

  • Bid'ah haram
Seperti pemikiran sekte Al Qadariyah, sekte Al Jabariyah, sekte Al Murji'ah dan sekte Al Khawarij, paham bahwa Al Qur'an adalah produk budaya, dan paham bahwa zamantini masih jahiliyah sehingga hukum-hukum Islam belum bisa diterapkan, dan lain sebagainya.

  • Bid'ah sunah
Seperti merenovasi sekolah, membangun jembatan, shalat tarawih secara bejamaah dengan satu imam, dan adzan dua kali pada shalat Jum'at.

  • Bid'ah makruh
Seperti menghiasi atau memperindah Masjid dan Kitab Al Qur'an.

  • Bid'ah mubah
Seperti, bersalaman usai shalat jamaah, tahlil, memperingati Maulid Nabi SAW, berdoa dan membaca Al Qur'an di kuburan, dzikir secara berjamaah dengan dipimpin imam usai shalat, dzikir dengan suara keras secara berjamaah, dan keanekaragaman bentuk pakaian dan makanan.

Mengenai bid'ah mubah ini diperlukan sikap toleransi yang tinggi di kalangan umat Islam untuk menjaga persatuan dan persaudaraan yang hukumnya wajib, artinya siapa saja boleh melakukan dan meninggalkannya, jangan sampai ada pemaksaan sedikitpun dalam melakukannya apalagi saling merasa benar atau menyalahkan kelompok lainnya. Adapun dalil yang menjadi dasar pembagian bid'ah ini menjadi lima adalah:
  1. Perkataan Umar tentang shalat tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan dengan mengatakan,
نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Ini sebaik-baik bid'ah.

Diriwayatkan dari Abdurrahaman bin Abdul Qari, dia berkata : Aku keluar rumah bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Kami menyaksikan orang-orang terbagi-bagi, masing masing melakukan shalat sendirian. Kemudian Umar berkata,

"Aku berpandangan andai saja aku bisa mengumpulkan mereka pada satu imam maka ini lebih baik dan ideal."

Beliaupun bertekad mengumpulkan mereka dengan imamnya Ubai bin Ka'ab. Kemudian aku keluar ke masjid pada hari berikutnya bersama beliau, kamipun melihat orang-orang sedang shalat dibelakang satu imam. Umar lalu berkata,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Inilah sebaik-baik bid'ah.

Adapun melakukannya di akhir malam maka itu lebih afdhal daripada melakukannya di awal malam. (HR. Bukhari)

  1. Abdullah bin Umar menilai shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah di masjid adalah bid'ah, padahal itu merupakan perkara baik.
Diriwayatkan dari Mujahid, dia berkata:
Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid, ternyata ada Abdullah bin Umar sedang duduk di samping serambi rumah Aisyah, lalu ada sekelompok orang melakukan shalat Dhuha secara berjamaah. Kamipun menanyakan hukum shalat mereka ini kepadanya, diapun menjawab, "Bid'ah". (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hadits-hadits yang menunjukkan pembagian bid'ah menjadi bid'ah baik dan buruk diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu' (shahih dan sampai pada nabi SAW):
"Siapa yang memulai suatu perbuatan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Siapa yang memulai suatu perbuatan buruk maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat." (HR. Muslim)
Dari apa yang disampaikan dapat kita simpulkan bahwa mengenai bid'ah ini ada dua pandangan para ulama:
  1. Seperti yang dikemukan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dan selainnya, bahwa semua perbuatan yang diberi pahala dan disyariatkan melakukannya tidak dinamakan bid'ah, sekalipun hal itu pantas dinamakan bid'ah dari segi bahasa, yaitu perbuatan baru yang belum pernah ada yang melakukannya, akan tetapi penamaan bid'ah terhadap perbuatan ini tidak dimaksudkan sebagai bid'ah yang tercela apalagi sesat.
  2. Pandangan perincian macam-macam bid'ah seperti yang dikemukakan oleh Al Izz bin Abdissalam sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya.
Sementara sikap kita sebagai muslim terhadap masalah yang cukup penting ini yang mempengaruhi pemikiran Islam, masalah-masalah fikih, juga pandangan atau sikap kita terhadap saudara-saudara semuslim kita lainnya, sehingga janganlah dengan mudah kita mengklaim mereka yang melakukan bid'ah hasanah (yang baik) itu sebagai pelaku bid'ah yang sesat dan fasiq (wal 'iyadzu billah/kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu), hal ini terjadi karena ketidaktahuan dengan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah yang telah jelas tersebut, sehingga masalah inipun menjadi samar dan aneh di kalangan umat Islam.

Minggu, 01 Januari 2012

Cerita Pendek

BEBEK DAN AYAM
Karya : M. Zain
             Pada sebuah gubuk dekat tepi sungai yang sangat jernih, di tengah hutan yang sangat  luas, tinggalah seekor bebek dan ayam, mereka adalah sahabat yang tak bisa dipisahkan oleh ruang maupun waktu . Bahkan saat kehilangan mereka saling melengkapi untuk mengisi kehilangannya. Persahabatannya sangat tampak saat mereka masih kecil.
            Sejak bebek dan ayam lahir, mereka sudah tidak mempunyai orang tua. Saat mereka masih berada dalam telur, mereka dihangati oleh panasnya bumi dan dibantu dengan panasnya sinar matahari serta didukung oleh suhu sekitar hutan yang sangat panas.
            Saat mereka berjalan jauh keselatan gubuk untuk mengenal alam sekitarnya, mereka menemukan sekelompok burung pipit yang terbang kearah pohon raksasa. “ Hello.., apa kabar? Mau apa kamu kesitu..?” Tanya bebek kepada salah satu burung pipit. “ Hello juga, kabarku baik- baik saja, hanya ada yang mengganggu dilubang hidungku”. Lalu Ayampun bertanya “emang kenapa hidungmu?” burung itu mejawab lagi “ lubang hidungku terkena jarum seekor landak”.  “ kok gitu, kamu berkelahi ya?” Tanya ayam lagi. Burung itu menjawab sambil terkejut “ kok kamu tahu..?” lalu ayam menjawab “ iya dong, kakimu kan patah?” dan burung menjawab kembali “ooo..iya!!”
            Setelah mereka mengobrol- obrol  dengan lamanya, merekapun lelah. Lalu bebek dan ayam kembali  ke gubuk untuk berisirahat. Namun, di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah sungai yang sangat indah, dan airnya lebih jernih dibandingkan dengan sungai yang di dekat gubuk mereka. Merekapun merasa haus dan gerah. Lalu tiba- tiba ayam meloncat dan berenang ke sungai itu sedangkan bebek melihatnya dengan rasa iri hati. Bebek tidak mempunyai sirip dan tidak bisa berenang, karena sifatnya yang iri hati bebek berencana untuk mencuri sirip ayam. Bebekpun punya ide untuk melakukannya. Kemudian bebek memanggil ayam “ cooyy..aku boleh pinjam sirip mu nggak?”  dan ayam menjawab “ waduh..??!! sorry brow aku lagi begini brow, enak broow”. Karena ayam tidak tega melihat sahabatnya yang hanya berdiri melihatnya dari tadi, ayampun meminjamkan siripnya. Setelah bebek memakai siripnya bebekpun berenang ke sungai. Bebek merasa senang dan bahagia memakai sirip ayam yang dipinjamnya. Waktupun terus berlalu, bebek tak henti- hentinya berenang. Ayam yang tak sabar menunggu siripnya kembali lalu ia memanggil “ broow..sudah selesai belum..? aku tak sabar niee..cepat pulang!!”. Bebek tak hiraukan panggilan itu, ayam pun kembali memanggilnya “ brow kamu denger  nggak sie?? Ayo cepat pulang!!!”. Dan akhirnya bebekpun menjawab “ sebentar cooy..sebentar lagi”. Bebekpun  bepikir dalam hatinya “ aduhh kalau sirip ini aku kembalikan, pasti aku tidak bisa bersenang- senang lagi”.  Lalu bebek pergi perlahan- lahan agar tak dapat ketahuan oleh ayam dan berhasil juga. Ayam yang tak mengerti bebek telah kabur, masih menunggu bebek kembali.

            Setelah beberapa jam kemudian ayam pun merasa khawatir, kalau siripnya dicuri oleh bebek. Ayam tak bisa berbuat apa- apa. Ayam merasa kecewa bersahabat dengan nya, lalu ayam kembali ke gubuknya. Gubuk itu tadinya dibangun oleh mereka berdua. Karena ayam kecewa, ia merobohkan gubuknya. Kemudian ayam berkelana kesebuah tempat dimana ia bisa bahagia dan akhirnya ayampun bertemu dengan seorang manusia. Manusia itu tertarik untuk merawatnya dan ayam juga ingin dirawat oleh manusia tersebut, lalu mereka pun hidup bersama sedangkan bebek yang mencuri siripnya sampai  saat ini tidak diketahui keberadaannya. Namun, banyak keturunannya yang memakai sirip. Sirip itu tidak dapat dipisahkan dari kakinya. Sebaliknya ayam, yang dulunya mempunyai sirip sekarang tidak. Persahabatan mereka yang dulunya sangat erat bagaikan kertas yang dilem sekarang berpisah bagaikan lalat kehilangan induknya. Persahabat memang tak slamanya bersatu.

Senin, 12 Desember 2011

Cinta Itu Tunanetra

CINTA ITU TUNANETRA
Karya   :  Mutholib
 Dewan Guru MA Salafiyah Pekalongan Muhammad Imron, S.H.I. CS bersama dengan 
Staff Khusus Kepresidenan SBY Bidang Hukum Bapak DENI INDRAYANA

            Di sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari asrama brimob Pekalongan, tepatnya di Sekolah Merah Putih. Meski sekolah itu tergolong kecil dan tidak termasuk kategori, tapi ilmu yang bisa dipetik sangat banyak, mulai dari ilmu agama, seni, otomotif, jurnalistik,komputer dan masih banyak lagi. Suatu ketika ada seorang murid pindahan sekolah dari luar kota, sebut saja namanya Fahmi Maulana. Dia pindah k e Pekalongan karena mengikuti orang tuanya yang mutasi kerja di kota ini. Dia orangnya pendiam, nurut sama guru tapi sayang kurang bersahabat dengan teman sekelas.  Masih di kelas yang sama terdapat sekelompok siswa yang membentuk geng yaitu Aveiro, Hasan, dan Otong. Mereka selalu bersatu, saling menolong baik suka maupun duka. Aveiro anaknya santai tapi serius, bahasa gaulny a”SLOW BUT SURE”, Hasan anaknya suka bercanda sedangkan Otong banyak kreatifitas yang bisa ia lakukan. Mereka bertiga tidak menyukai murid pindahan yang baru masuk di kelasnya. Acuh tak acuhlah yang mereka tunjukkan kepada Fahmi. Waktu berjalan begitu cepat, sudah 3 bulan Fahmi  menduduki bangku kelas X Merah Putih dan dia mendapatkan seorang cewek  yang juga disukai Aveiro. Tapi Aveiro masih memendam dalam hati,  dia Cuma berkata “ Biarlah………mungkin  belum saatnya aku memilikinya ”. Sebutlah cewek itu Vika.
            Sudah empat  bulan mereka jadian, sedangkan Aveiro cs  cuma bisa memantau  bagaimana karakter Vika yang sebenarnya. Hasan ketika itu menemui Aveiro yang sedang menikmati mie di kantin mbok Surti. Hasan memberikan informasi tentang siVika itu. Hasan berbisik ,” Ave hubungan Fahmi dan Vuka kayaknya akan runtuh !!!!!!!!!!! “. Apaaaaaa? Ave kaget dengan bisikan Hasan . ” Benar nggak yang loe ucapkan  itu ?” sahut Ave dengan nada tinggi. “Iya ,informasi yang gue ketahui sih orang tuanya Vika nggak setuju dengan hubungan mereka”.
            Aveiro segera menghabiskan mie yang tinggal setengah mangkok dengan tergesa-gesa. Karena Aveiro ingi mengetahui secara  langsung, apa benar yang dikatakan Hasan. Tapi belum sempat habs mienya, Avei langsung lari . “ Bayarnya nanti istirahat kedua “. Itulah yang keluar dari mulut Ave yang diperuntukkan kepada mbok Surti yang mempunyai kantin, dan makanan yang ditinggalkan langsung dilahap Hasan yang masih duduk tercengang melihat tingkah Ave.
            Suatu hari Aveiro, Hasan, dan Otong  janjian untuk berangkat pagi-pagi , karena mereka tidak mau datang terlambat seperti hari yang sudah lewat . Tepatnya hari itu adalah ulangan semester 2 alias kenaikan kelas. Sementara hubungan Fahmi dan Vika sudah selesai karena masalah orang  tua yang nggak setuju. Hari-hari Fahmi dilalui dengan lamunan bayangan  Vika dan yang dulu sikapnya pendiam seketika berubah menjadi pemarah. Sempat Fahmi membuat masalah dengan Ave dan mereka hampir berantem, tapi Otong memisahnya,karena hari itu hari pertama ulangan semester 2. Ave sempat kesal dengan Otong. ‘ Tong kenapa tadi  kamu melerai aku,padahal aku ingin menghabisi dia dengan tanganku yang sudah terpasang rantai…………!”. Ave marah pada Otong. “ maaf , aku tidak bermaksud untuk meleraimu, tapi  ini hari pertama kita ulangan semester 2” Otong menjawab dengan tenang. Bel masuk  berbunyi semua murid masuk dalam ruangan  masing-masing. Tapi tidak  dengan Aveiro, dia marah dengan Otong sehingga dia agak males masuk untuk mengikuti semesteran . “ Ave kenapa kamu tidak masuk?”kata Vika yang kebetulan baru beli bolpoin di kopersi. “ oh ya……..sebentar lagi,aku mau mengambil kartu peserta di ruang TU”sahut Aveiro dengan wajah tersenyum.
            Tujuh hari berlalu akhirnya ulanganpun telah selesai, saatnya waktu yang mendebarkan karena ulangan ini menentakan naik tidaknya seorang  siswa. Dan Alhamdulillah siswa-siswi Merah  Putih  naik kelas semua ke kelas IX, yang nantinya akan terbagi menjadi 2 jurusan yaitu IPA dan IPS. Kebetulan Aveiro, Hasan, Fahmi, dan Vika masuk di kelas IX IPS, sementara Otong masuk di kelas IX IPA. Hari pertama masuk satu kelas bersahabat, yang dulunya Aveiro, Hasan, benci dengan Fahmi, sekarang justru mereka  menjadi sahabat yang sangat erat. Mereka sering bekerja sama kalau ada tugas , dan merekalah yang  lebih dulu mengumpulkannya. “ sendirian Vik……?” kata Ave sambil duduk di depan Vika . “iya nich…temen-temenku nggak ada yang mau aku ajak ke perpus”kata Vika. “aku temenin mau nggak ?”Ave berkata sambil dengan senyuman manisnya. Setelah 1 bulan Aveiro mendekati Vika, akhirnya mereka jadian. Mereka  saling membantu, dan saling menyayangi. Tapi sayangnya belum ada 1 bulan habungan mereka berakhir, karena mereka dan  kepala sekolah melihatnya. Akhirnya merekapun dipanggil dan diberi nasehat oleh kepala sekolah. Mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.
            Hari-hari  Aveiro dipenuhi dengan  Narkotika, dia bertujuan  bahwa dengan ia mengkonsumsi barang tersebut  pikirannya akan tenang. Karena Aveiro sangat mencintai dan membutuhkan Vika. Empat bulan berlalu Aveiro, Hasan, dan Fahmi berkumpul di perpustakaan, untuk merencanakan tugas yang akan dibuat pada malam hari di rumah Ave. Di rumah Ave, mereka bertiga membicarakan tentang Vika dan Ave membocorkan semua rahasia, dan hal- hal yang pernah mereka berdua lakukan saat berpacaran. Disitu Fahmi memanfaatkan situasi dan Fahmi sering menanyakan tentang Vika . Awalnya si Ave tidak tau apa tujuan Fahmi menanyakan itu semua. Tapi setelah kejadian  itu, membuat Aveiro hancur dan ia mulai sadar kalau dirinya itu hanya dimanfaatkan oleh Fahmi. Tak lama kemudian Fahmi pun balikan lagi dengan Vika dan Aveiro sangat menderita mendengar berita itu. Setiap hari hanya Narkoba yang menemani hidupnya
            Kelas XI.IPS yang dulunya kompak sekarang berantakan, Fahmi, Aveiro dan Hasan dulunya sahabat sekarang 300% berubah menjadi musuh. Lama kelamaan akhirnya Aveiro sadar biarlah mereka jalani, “ Bersatu kita berantakan bercerai kita teguh “ dalam hati Ave mengatakan. Hari-hari Ave dilalui hanya bersama Hasan yang menurut Ave Hasan is the best.
            Tak lama kemudian Ave pun akhirnya bisa melupakan Vika dan meninggalkan barang-barang haram yang biasa dikonsumsinya. Ave dan Hasan bekerja keras agar menjadi yang terbaik di kelas XI. IPS, Suatu hari di dalam perpustakaan Ave dan Hasan sedang mengerjakan tugas. “Ave gimana perasaanmu sekarang dengan Vika” Tanya Hasan pada Ave. “Perasaanku pada Vika sekarang sudah hilang semua, dan aku baru tau bahwa cinta itu buat hancur segalanya dan CINTA ITU TUNANETRA, sahut Ave sambil tangannya menulis tugas.

Jumat, 11 November 2011

Khasanah Bahasa Jawi

Ngupadi Sejatining Sira
Dening: Abi Jel
 Kepala MA Salafiyah Pekalongan ( Ahmadun, S.Ag, M.S.I ) berdampingan bersama dengan Kepala SMP Salafiyah Pekalongan ( H. Mahmud Masykur ) dalam Yayasan Salafiyah Pekalongan

Sandyakalaning ratri wus klakon sumilak dening
Bayu kang tanpa ewuh nelakake gegaman sepi
Tajem, sadurunge kumlepat emprit ganthil gumrenggeng
Adol padudon rebut  papan panggone nandur impening wengi
Tan karasa maneh apa sejatining lara, sanajan atising rah
Tumetes  angukir goresan tatu noraning wates
Anteng,   tanpa swara
Wening, tanpa kumecap
Sesambating manuk wengi katon mecahake  cahyaning candra
Ananging tetep ora kuwawa nyingkep sajating rasa
Kang ngawe-awe sansaya ngadoh kagawa kerliping kartika
Wewayangan puspita warni sansaya ndadi
Memba rakseksa suka manjing sajroning dada
Memba samudra lara manjing salebeting ati
Nglumpruk tanpa aji, uwal kaprayitnan
Kentekan  daya anggone ngetung ari
Saking sawinjing mangsa marang mangsa sapiturute
Isih wae ra nemoni kang tansah dadi gegayutaning urip
Kamangka wus tekan watesing pangajab amrih
Kelakon gegandheng bebarengan napaki lunyuning margi surgawi
Sandyakalaning ratri tanbisa nerak wewayanganing puspita ati
Kang sumadya nresepake wangiaruming katresnanjati
Sumurat jingga eseming candra kesaput dening
Sumunar lintang waluku
Karasa jroning manah bebudene jiwa kang nandhang bronto…
Kangen mring Slira Mu…
Rikala sepining ratri sansaya nglangut
Gumantung sapanunggal pitakon
Neng ngendi padununge Aran kang Sawiji
Minangka geganthilaning rasa lahir lan bathin
Apa iki kang kinaran  dhawah lebeting samudera asmara
Nadhahi tumetesing embun pangasih  ngajap necep banyuning suwarga
Apa iki sejating rasa, sawise luh tan bisa mili
Amarga milik secuil katresnan asli
saking jroning welas sih Mu
Dhuh, Sopo sajatining Sira ?
                                                                                                            Pekalongan,    Juli 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Suara MAS El-Kawakib

Seluruh Dewan Guru dan Staff TU MA Salafiyah Kota Pekalongan foto bersama dengan Staff Khusus Kepresidenan SBY Bidang Hukum Bapak DENI INDRAYANA


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hallo, how are you to reader the magazine SUARA MAS ?. Tentu dalam keadaan sehat semua bukan ?. Setelah lama liburan panjang tidak terasa, sekarang sudah kembali lagi dengan kegiatan rutin sekolah. Untuk liburannya  bagaimana,mengasyikan tidak?. Sebagian teman kita liburan tidak untuk bersantai – santai saja di rumah, mereka justru menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di luar sana. Ada yang mengisinya dengan bekerja sementara  atau hanya untuk sambilan saja, pergi berlibur, membantu orang  tuanya di rumah, dan mungkin masih banyak lagi kegiatan yang  lainnya.
                Dalam majalah ini kalian akan melihat motivasi,harapan, semangat  serta  usaha yang terekam dalam ritme dinamika pembangunan dan peningkatan kualitas serta kuantitas MA SALAFIYAH. Sehingga  masyarakat luas dapat lebih mengenal,  memahami, dan menerima kultur MA SALAFIYAH. Banyak kegiatan yang dilakukan madrasah ini untuk meningkatkan prestasinya. Dari berbagai lomba dan kompetisi yang pernah diikuti, kontingen MA Salafiyah sering meraih juara. baik itu akademik maupun non akademik. Hal ini tentu menjadi salah satu berita menggembirakan bagi  segenap siswa  MA Salafiyah dan pembaca pada umumnya.  Demi membangun dan meningkatkan kuantitas serta mutu pendidikan di MA SALAFIYAH, murid – muridnya tidak hanya berdiam dan menunggu adanya keajaiban yang akan merubah madrasah ini menjadi lebih baik. Mereka  harus berjuang , dengan belajar giat dan tekun. Tidak hanya itu, pada liburan kemarin ini ternyata madrasah kita telah meraih juara ke-3 lomba mading dalam rangka peringatan Harlah NU ke – 85.Tentu kalian belum tahu berita itu bukan?.
                Selain berita kejuaraan di atas, kalian juga bisa mengetahui prestasi  apa saja yang pernah diraih oleh siswa-siswi MA SALAFIYAH dalam profil MAS  yang telah  membukukan segudang penghargaan ini. So, nunggu apa lagi, kesempatan kita untuk menambah prestasi demi meningkatkan rating madrasah  ini di belantara pendidikan kota Pekalongan?. Khusus bagi peserta didik baru, dapat mengenal lebih jauh lagi dengan kalian membaca majalah ini.
Tidak hanya itu, kami juga berharap semoga pelaksanaan TOS (Training Orientation Student ) dapat berjalan  dengan baik. Kesuksesan pelaksanaan ini, semoga menjadi awal kesuksesan baru dalam membangun dan meningkatkan MA SALAFIYAH. Untuk itu, janganlah patah semangat dalam belajar untuk mewujudkan harapan dan cita - cita. Kita harus berjuang mulai dari sekarang, karena hal itu dapat menentukan masa depan kita nantinya. Dengan adanya siswa didik baru  tahun ini, diharapkan  hasil yang jauh lebih baik lagi dalam berlomba-lomba  mengukir prestasi  di madrasah ini.  Selamat berjuang !                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       


Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Rabu, 28 September 2011

Juara III Lomba Mading

MA SALAFIYAH MENDAPAT JUARA III LOMBA MADING 
Ade Firlia, mewakili Tim Jurnalistik Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Pekalongan menerima
Piala Lomba Mading Harlah NU ke-85 di Gedung Aswaja

                Dalam rangka peringatan hari lahir Nadhatul Ulama ke-85, panitia peringatan Harlah NU kota Pekalongan mengadakan beberapa kegiatan, di antaranya Lomba Majalah Dinding (MADING) yang diselenggarakan untuk terbuka,serta dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu tingkatan SD/MI, SMP/MTS dan SMA/SMK/MA.
            Dengan modal semangat dan ide kreatif, siswa- siswi MA SALAFIYAH ( MAS ) mengikuti lomba tersebut. Meskipun sebenarnya belum pernah mengikuti kegiatan yang sedemikian dan kurang berpengalaman, namun itu semua tidak membatasi langkah siswa- siswi MAS untuk mencoba dan terus melangkah ke depan tanpa rasa ragu atau putus asa, apalagi ditemani oleh para pembimbing yang dengan sabarnya mengarahkan juga selalu memberi motivasi serta dukungan yang besar.
            Ketentuan lomba madding itu sendiri, mencakup dua aspek. Aspek pertama perwajahan yang meliputi tata letak, ilustrasi , keaslian dan kreativitas. Sedangikan aspek kedua yaitu tentang isi, meliputi kesesuaian tema, kebahasan, kejurnalan, rublikasi dan kedalaman materi.
            Dan untuk memenuhi kriteria yangtelah ditentukan, pastinya TIM MADING MAS ( siswa- siswi MAS ) sangat membutuhkan keuletan, kesabaran, juga kreativitas tinggi untuk membuat mading agar sesuai dengan ketentuan yang diinginkan.
            Apalagi, kegiatan ini diselenggarakan sekitar dua minggu setelah selesai UKK ( ulangan kenaikan kelas ) semester 2, wow… butuh perjuangan super untuk mempersiapkannya.
 ( Perjuangan Tim )
            Awalnya, Tim menyusun dan membagi tugas pengumpulan bahan- bahan, mulai dari wawancara, corat- coret puisi, cerpen, aplikasi humor juga membuat dan penyusunan artikel. Sekitar satu setengah minggu sebelum batas akhir pengumpulan, Tim memulai bekerja keras dengan penuh harapan semoga bisa menjadi terbaik nantinya.
            Tentunya menuju sebuah keberhasilan, jalan yang ditempuh tidak selamanya berjalan dengan baik, beberapa kendala dating menghampiri dan sedikit menguji Tim, antara lain nge-jam karet yang dibudayakan, dari munculnya masalah ini cukup mengganggu konsentrasi tim. Alhasil, semakin ngaret jam  makin ngaret  pula tugas juga banyak waktu terbuang secara percuma.



           Namun, berkat solidaritas yang lumayan  tinggi, masalah tersebut dapat teratasi dengan sendirinya.
            Tanpa terasa, tinggal satu minggu sisa waktu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan mading. Bahan- bahan mulai terkumpul meski belum sepenuhnya, sementara bahan mulai lengkap Tim melanjutkan tugas merancang papan mading berukuran 90 x 60 cm memakai gabus, tidak ketinggalan pula membuat hiasan agar tampilan semakin indah. Tinggal menghitung hari, setelah papan telah usai dan bahan sudah komplit, proses penempelan serta menata ilustrasi digerakkan.
            Alhamdulillah, tepat tanggal 16 juni 2011 batas akhir pengupulan, mading dapat terselesaikan. Tanpa menunggu lama tim segera mengirimnya kepada sekretariat panitia peringatan Harlah NU ke-85 tahun 2011 di gedung Aswaja, Jl. Sriwijaya Pekalongan .
            Beberapa saat, setelah tim pulang dari pengumpulan  hasil karya MADING, tim mendapatkan undangan untuk menghadiri puncak pengajian Hari Lahir Nadhatul Ulama ke- 85 sekaligus pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah, yaitu pada tanggal 29 Juni 2011 di gedung Aswaja kota Pekalongan pukul 20.00 WIB.

 ( Puncak penerimaan penghargaan )
            Hari  “H”  kini telah tiba, tanggal 29 Juni 2011 tepat hari ini, sekitar pukul 20.00 WIB Ade Firlia, Hartutik, Mahfidho Musa, dan Rusmanah perwakilan,dari Tim Mading MA Salafiyah datang menghadiri acara terserbut. Baru menginjakkan kaki di halaman gedung saja, suasana sangat terasa meriah, acara yang juga disponsori XL menampakkan baliho- baliho disekitar halaman gedung yang bertuliskan XL. Di tambah suara merdu berlantun dengan music terbangan semakin melengkapi suasana hingga terasa pas.
            Acara yang dibarengi pelantikan pengurus Pimpinan Cabang juga ikut meramaikan suasana, terlihat kakak- kakak memakai jas berseragam abu- abu, keren banget. Akhirnya yang ditunggu- tunggu hadir pula, acara pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah dimulai, ternyata selain lomba Majalah Dinding (MADING), ada juga lomba Marching Band tingkat SMP/ MTS, terus Simtu durror tingkat ranting NU se- kota Pekalongan. Raut panik tampak dari wajah para perwakilan TIM MAS, saat MC mengumumkan pemenang dari lomba Mading tingkat SMA/MA/SMK se- kota Pekalongan dan allhamdullillah MA Salafiyah menjadi juara ketiganya. Raut bimbang yang sebelumnya terlukis kini berubah cerah ceria. “walaupun, hanya bisa menjadi juara ketiga, tidak masalah. Karena memang saingan cukup besar lagi pula masih banyak kekurangan dari hasil karya kami, mungkin diawali juara ketiga dulu, dan semoga ini menjadi titik awal kesuksesan bagi kami dan cukup memberi warna indah plus cerah bagi MA SALAFIYAH tutur Rusmanah, salah satu perwakilan Tim Mading MAS yang ikut hadir.
 (Keberhasilan untuk MA Salafiyah tercinta)
            Salah satu perwakilan Tim Mading MAS Ade Firlia, maju dan naik ke atas panggung untuk menerima piala, serta penghargaan lainnya yang berupa piagam juga uang pembinaan senilai Rp 400.000, malam itu kebahagiaan terasa begitu dalam apalagi dengan perjuangan yang selama ini dilakukan.
            Untuk Ma Salafiyah tercinta, hadiah ini menjadi persembahan yang mungkin tidak begitu besar, namun semua ini sebagai rasa terima kasih kami atas apa yang telah dididikkan. WE LOVE MA SALAFIYAH..! 

Senin, 08 Agustus 2011

Tahlil dalam Pendekatan Normatif Islam

TAHLIL DALAM PENDEKATAN NORMATIF  ISLAM
Oleh : Ahmadun, S.Ag, M.S.I
Kepala MA Salafiyah Pekalongan ( Ahmadun, S.Ag, M.S.I ) berdampingan dengan Staff Khusus Kepresidenan SBY Bidang Hukum ( Bapak DENI INDRAYANA ) 
untuk menandatangani Buku Indonesia Optimis
A.   Konsep Tahlil
Konsep tahlil dalam Quran memang tidak pernah disebut. Namun demikian, secara etimologi kata tahlil yang merupakan fi’il madli  dari hallala yang mengandung arti membaca kalimat laa ilaaha illallah  atau membaca nama Allah. Dengan kata lain, konsep tahlil pada hakikatnnya sama dengan membaca kalimat thoyyibah atau membaca kalimat dzikir. Dalam Qur’an perintah membaca, menyebut atau mengingat atau mengingat Allah selalu dipakai kata dzikran/udzkur.
Keutamaan berdzikir yang disebut dalam berbagai ayat yang berjumlah kurang lebih 54 ayat  menegaskan bahwa aktivitas dzikir merupakan aktivitas yang sangat penting dan sangat dianjurkan oelh Allah. Pentingnya berdzikir juga ditegaskan dalam berbagai hadis Rasululah yang sedikitnya berjumlah 41 hadis.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa dzikir merupakan aktivitas keagamaan yang mempunyai banyak keutamaan. Selain dipandang sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sarana berdo’a, sarana membebaskan diri dari berbagai dosa, secara normatif dzikir dapat pula dipakai sebagai indikator  utama dalam dimensi keimanan seorang muslim.
Tahlil dapat didefinisikan sebagai aktivitas keagamaan dengan mengucap kalimah thoyyibah, membaca ayat-ayat Qur’an, membaca do’a-do’a tertentu dengan urutan-urutan tertentu, pola-pola tertentu dan waktu-waktu tertentu.
B.   Tahlil dalam tinjauan Normatif
Meskipun secara tradisi kegiatan tahlil sudah dilakukan hampir disetiap daerah di Indonesia, namun keberadaannya belum bisa diterima oleh semua lapisan umat Islam. Di satu sisi, sebagian umat Islam berpandangan tahlil tidak ada dasarnya. Sebaliknya, sebagian umat Islam berpandangan bahwa tahlil merupakan salah satu tuntunan Rasulullah. Dilihat dari konteks tersebut, perbedaan pemahaman tentang tahlil memang menjadi tajam. Bahwa kerangka hukum bidah dengan dianjurkan adalah dua hal yang bertentangan.
Pengertian bid’ah dalam konteks rumusan hukum Islam pada dasarnya sangat beragam. Perbuatan yang tidak pernah dilakukan Rasulullah yang berkaitan dengan kebaikan atas dasar prakarsa dan tidak bertentangan dengan kaidah hukum syariat (berdosa), maka prakarsa dapat dinilai baik dan dapat diterima. Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah mahmudah (terpuji ) dan bid’ah madzmumah (tercela.)
Keberadaan tahli dianggap bid’ah oleh sebagian kalangan, namun para ulama ahlussunnah memberikan argumentasinya bahwa Rasulullah bersabda “ Barangsiapa membuat sunnah (tradisi) yang baik, baginya pahala, dan pahala orang yang melaksanakannya”. Salah satu alasan bahwa tradisi yang dapat dipandang baik ,  dan tidak melanggar hukum Islam, bertujuan baik, mampu mengembangkan dan membangkitkan etos keagamaan, maka tradisi tersebut tidaklah termasuk kategori bid’ah, meskipun tradisi tersebut tidak pernah ada pada zaman Rasulullah.
Banyak hadis-hadis yang menjelaskan perintah dan anjuran  untuk membaca kalimah thoyyibah serta mendoakan sesama muslim baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Di antaranya Ahmad ibn Hanbal didalam musnadnya, oleh Abu Daud, An-Nasa’i dan dibenarkan oleh Ibnu Hibban, bahwa Rasulullah pernah bersabda “ Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang telah wafat diantara kalian’.  Hadis riwayat Abu Hurairah juga menyatakan , Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kemudian membaca al-Fatihah, Qulhuwallahu Ahad dll, kemudian ia berdo’a,Ya Allah kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu kepada kaum muslimin dan mukminin penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolonng baginya (pemberi Syafaat) pada hari kiamat.
Dengan demikian jelaslah bahwa keberadaan tahlil tidak hanya sekedar ibadah ritual yang mengadopsi terhadap budaya lokal indonesia, melainkan jelas-jelas dianjurkan oleh norma-norma agama ( Quran dan Hadis).
Sebagaimana yang sudah  sebutkan diatas, keberadaan tahlil sudah jelas. Tidak hanya sekedar aktivitas ritual yang mengadopsi budaya lokal Indonesia, melainkan juga jelas-jelas dianjurkan dalam norma agama. Di samping ada tuntunannya secara jelas dalam norma agama dan kesesuaian dengan sosial budaya Indonesia, tahlil mempunyai beberapa manfaat yang bisa ditinjau dari berbagai dimensi diantaranya :
a.    Dimensi Kultural
Adalah sebuah realitas jika tidak semua warga muslim memahami betul persoalan keagamaan dalam arti bahwa semua aktivitas keagamaan yang dlakukan didasarkan oleh interpretasi hukum yang ia yakini. Tidak jarang bahwa keterlibatan mereka dalam aktivitas keagamaan hanya didasarkan pada tradisi yang berkembang dilingkungannya. Bahkan banyak umat Islam yang cara pandang keagamaannya lebih mendasarkan pada filosofi kultural. Mereka memaknai teks agama tidak hanya secara harfiah melainkan dengan pendekatan rasional yang memakai penafsiran metaforis.
Munculnya filosofi kultural memang tidak lepas dari kerajaan-kerajaan Jawa Islam, terutama pengaruh tradisi lokal di masyarakat sebelum masuknya Islam. Tradisi inilah yang pada akhirnya menimbulkan perkawinan Islam dengan tradisi lokal.
Adanya tradisi slametan yang di dalam ada tahlil,  oleh orang jawa diartikan sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan hidup. Makna ini kemudian disetarakan dengan pemaknaan Islam yang berarti selamat. Karena itu masyarakat muslim masih memegang kuat tradisi kultural jawa. Karena mereka memandang bahwa rumusan Selamat dan Islam, keduanya mempunyai esensi makna yang sama, yaitu sama-sama mencari keselamatan hidup, baik didunia maupun diakherat.
b.    Dimensi Sosial Kemasyarakatan
Keberadaan Tahlil tidak semata-mata hanya kegiatan ritual keagamaan, tetapi tidak jarang justru dijadikan ajang sebagai alat untuk mempererat ikatan persaudaraan pada suatu  komunitas. Kenyatan yang ada aktivitas tahlil mampu mempersatukan sebuah kampung dan mampu membangkitkan potensi sosial. Sehingga tidak jarang suatu perkumpulan tahlil mampu menghimpun dana yang dipakai tidak hanya untuk kepentingan jamaah (Pengeras Suara, Tikar, membangun Masjid atau musholla  dll) , namun juga dana yang terkumpul digunakan untuk menyantuni kaum lemah, orang sakit, memberi beasiswa bagi anak yang kurang mampu dan sebagainya.
Kegiatan tahlil yang terjadi dimasyarakat mampu mempererat tali persaudaran antar sesama warga juga penghormatan dan doa kepada saudaranya yang telah meninggal. Dengan demikian, tahlil dipandang mampu menembus  ukhuwah tidak hanya bagi masyarakat yang masih hidup, namun juga bagi orang yang sudah meninggal.
c.    Dimensi Dakwah
Agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk tidak henti-hentinya selalu menyampaikan risalah Allah melalui nabi Muhammad. Demi kesuksesan penyampaian risalah tersebut, perlu dibuat formula yang sangat tepat, efektif dan efesien.
Tahlil merupakan sarana yang sangat tepat digunakan menyampaikan risalah Allah atau dogma-dogma Agama. Hal yang sudah menjadi kebiasaan dalam kegiatan tahlil adalah dihadiri oleh banyak orang, ada momen-momen penting dalam hidup. Kesempatan inilah dakwah dapat dilakukan yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan momen tertentu.
d.    Dimensi Taqorrub ilallah
Sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas, konsep tahlil adalah sama dengan dzikir, walaupun bentuknya sudah dikemas sedemikian rupa. Dengan memperbanyak membaca tahlil secara otomatis juga banyak berdzikir dan mengingat Allah. Ini adalah sarana hamba mendekatkan diri pada khalik-Nya. D isamping itu, dengan melakukan tahlil manusia akan selalu diingatkan akan dzat yang yang Maha tunggal. Tidak ada sesuatu yang menyerupai atau menyamai-Nya.
Dengan Tahlil manusia selalu diingatkan akan kematian. Kematian merupakan suatu yang pasti akan terjadi pada manusia. Manusia yang selalu ingat akan hakekat ia diciptakan, maka akan berimbas kepada prilaku kesehariannya yang tidak akan sombong, saling tolong, menjaga Tauhid taat pada ajaran agama dan sebagainya.

MA Salafiyah Pekalongan Jaya